Kalau boleh flash back sedikit, masih teringat jelas pada Selasa 1 Oktober lalu, ketika saya bekerja sambil ngecek twitter (ketahuan ya, kerjaannya disela-sela kerja ngecek twitter..jadi malu) tiba-tiba saya dikagetkan dengan twit sepupu saya tercinta, yang menginfokan Pakde saya tiba-tiba anfal. Saya mencoba membagi informasi ini kepada keluarga besar. Saat itu ngga tahu kenapa saya langsung punya feeling ngga enak. Kami semua mencoba menelfon Bude dan Mba Pungky untuk menkonfirmasi apa yang terjadi dan bagaimana keadaan Pakde saya, namun tidak ada satupun dari kami yang berhasil. Saya mencoba menenangkan semua orang, dengan bilang mungkin Bude dan Mba Pungky lagi sibuk, dan keadaan Pakde masih baik-baik saja.
Saat itu juga, saya langsung menelpon Ibu saya yang kebetulan berdomisili di Yogyakarta dan mengabarkan peristiwa ini. Seketika Ibu saya langsung berkata
"Ibu beli tiket sekarang juga, sekarang juga Ibu berangkat ke Jakarta."
Saya mencoba menahan dengan mengatakan "Ngga usah Bu, tunggu berita aja, mudah-mudahan Pakde ngga apa-apa."
Tapi Ibu saya masih ngotot, dia bilang "Feeling Ibu ngga enak, Ibu mau ada disamping Pakde apalagi kalau sampai ngga ada umur. Kalau Ibu ngga kesana sekarang, Ibu ngga mau nyesel nantinya"
Akhirnya saya menyerah dan hanya bisa bilang ke Ibu saya untuk berhati-hati.
Hari itu, saya kerja sama sekali ngga konsen, kepikiran dan khawatir, apalagi setelah menerima pesan dari sepupu saya, yang mengatakan Pakde masuk ICU, sempet hilang nafas dan sekarang harus menggunakan ventilator (alat bantu nafas). Ingin rasanya lari langsung ke Rumah Sakit, tapi keadaan saat itu kurang memungkinkan, karena Rangga lagi UTS, dan saya masih harus mendampingi dia belajar.
Sore hari, saya tidak bisa menahan air mata, ketika sepupu saya mengirimkan foto keadaan Pakde hari itu. Saya cuma bisa berdoa, supaya Allah memberikan yang terbaik bagi beliau, kalau memang mau diambil dan dihilangkan semua rasa sakitnya, cepatlah diambil, namun apabila Allah ingin memberikan mukjizat dan membuat Pakde sehat kembali, sembuhkanlah. Hanya itu yang bisa saya lakukan, tidak ada yang lain.
Saat saya berkesempatan untuk menjenguk beliau pertama kali, saya mencoba sekuat tenaga untuk tidak menangis. Jujur menahan tangis saat melihat keadan beliau susah sekali. Ketika berada di ruangan Pakde, sayapun jadi salah tingkah. Saya masuk bersama sepupu saya, Mba Pungky, dan entah sepupu saya sadar atau tidak, saya sebisa mungkin tidak melakukan kontak mata dengannya. Bukan karena apa-apa, tapi karena saya takut menangis di depannya. Saat itu yang ada dipikiran saya hanyalah saya harus kuat, saya ngga boleh nangis, kalau saya sampai ngga kuat, gimana saya bisa memberikan kekuatan buat sepupu saya. Tidak ada 10 menit saya di dalam kamar, saya akhirnya menyerah. Mencoba menggunakan alasan ingin ke kamar kecil, saya keluar karena ngga tahan. Saya tidak mau terlihat menangis di depan sepupu saya.
Hari demi hari, hingga lewat dari seminggu setelah Pakde dirawat, sama sekali tidak ada perubahan. Pakde tetap seperti keadaannya ketika masuk RS, tidak ada respon, dan masih menggunakan semua alat yang menempel di tubuhnya, terutama ventilator. Dilema mulai menghinggapi keluarga besar kami. Bagaimana ke depannya? Sampai kapan Pakde akan seperti ini? Apakah ini merupakan jalan terbaik?
Rabu sore minggu lalu, ketika Ibu saya menginap di rumah saya, handphonenya berbunyi, ternyata itu dari om saya. Intinya Om saya meminta Ibu untuk ikut rapat keluarga malam itu, namun Ibu saya menolak dengan halus, dengan menggunakan alasan masih berada di rumah saya. Ketika telpon ditutup Ibu saya bilang, "Sebenarnya alasan Ibu ngga mau datang rapat bukan apa-apa, Ibu ngga tega dan pasti nangis, mending disini."
Saya sempat diinfokan hasil rapat keluarga terakhir mengenai apa yang akan dilakukan. Mendengar bagaimana hasil rapat, lagi-lagi dilematis. Sebagai keponakan saja, buat saya, itu adalah keputusan yang sangat berat dan dilematis. Saya 1000 persen bisa mengerti, bagaimana perasaan kedua sepupu saya, terutama perasaan Bude saya.
Jumat sore lalu ketika saya sedang menunggu suami, tiba-tiba pesan masuk dari sepupu saya, meminta agar memberi tahu keluarga besar untuk berkumpul di rumah sakit esok harinya. Keputusan sudah diambil, suka atau tidak suka, kami semua yakin, ini lah yang terbaik untuk semua, terutama buat Pakde. Bingung banget gimana mesti mengetik di grup keluarga mengenai permintaan sepupu saya. Saya ngetik sambil nangis, nunduk di tengah cafe biar ngga ada orang yang sadar kalau saya sedang menangis. Di mobil dalam perjalanan pulang, lagi-lagi saya menangis ketika bercerita ke suami saya. Ngga tau mesti gimana, separuh tenaga rasanya hilang, sejak menerima pesan dari sepupu saya, menguap entah kemana..
Sabtu siang semua berkumpul..Berkumpul untuk dengan Ikhlas melepas kepergian Pakde, sekaligus saling memberi support dan kekuatan. Semua berusaha tertawa, walaupun dalam hati kita semua tidak siap. Tidak ada yang pernah siap ketika kita dihadapkan pada pilihan seperti ini. Dilematis? Pasti ..sangat dilematis.. Ikhlas? Antara Ikhlas dan ngga Ikhlas..tapi dibalik itu semua kami semua yakin, inilah yang terbaik dan ini yang dikehendaki Allah buat kami semua, terutama buat Pakde. Saat makan siang, sebelum sepupu saya Mba Pungky bergabung dengan kami saya sempat bertanya kepada keluarga besar saya, kenapa tidak ada satu pun yang merespon, ketika saya mengabarkan permintaan Mba Pungky, untuk berkumpul. Jawaban mereka semua sama, tidak tahu mesti gimana, separuh tenaga langsung menguap ketika membaca pesan yang saya tulis.
Hari itu, kami keluarga besar seperti menghitung mundur waktu..Antara siap ngga siap dan tidak tahu harus bagaimana..Cuma doa yang terus kami panjatkan, sampai akhirnya sekitar pukul 3 kurang, kami semua diminta untuk ke ruang ICU, diberi kesempatan untuk melihat beliau sebelum semua alat dilepas. Tidak banyak yang kami lakukan, saya sendiri hanya bisa menangis dan membisikan permintaan maaf ke beliau dan berharap agar semua penyakit yang selama ini beliau rasa dihilangkan,sehingga beliau tidak lagi merasa sakit. Setelah semua diberi kesempatan untuk melihat, kami semua diminta keluar, hanya keluarga inti saja yang diminta untuk tinggal. Saya tidak tahu bagaimana proses itu berjalan..namun sekitar pukul 15 lewat 30 menit, kami menerima foto-foto yang menandakan proses mulai berjalan. Kami hanya menunggu..menunggu dan menunggu. Tidak lama dari itu, salah seorang kakak Ibu saya keluar dari ruang ICU dan mengabarkan Pakde sudah berpulang, tepat pukul 15:55. Beliau berpulang dengan damai dan tenang...Tangis kami pun langsung pecah.. Semua menangis, tidak ada satupun dari kami yang tidak menangis..
Ini rasanya, ketika kami semua harus mengambil keputusan yang sangat sulit dan menanti sesuatu yang kami sudah tahu jawabannya.. Ikhlas hanya itu yang bisa dilakukan.. Buat saya pribadi, tangis saya tidak 100% tangis kesedihan, namun juga tangis lega.. Sedih tentunya ketika kita kehilangan orang yang kita sayangi dan hormati, namun juga lega, lega karena beliau tidak lagi merasakan rasa sakit itu, lega karena beliau pergi dengan tenang. Saya juga lega ketika melihat Bude dan kedua sepupu saya dengan Ikhlas menemani detik-detik kepergian beliau..
Selamat Jalan Pakde.. Hilang sudah rasa sakit itu.. Sekarang Pakde pasti sudah bahagia, berkumpul kembali dengan Yang Yi dan Yang Kung, serta saudara-saudara yang sudah mendahului kami semua..Salam cinta saya buat semua yang ada disana..terutama buat Bapak saya..
Terima Kasih Pakde..sampai detik-detik terakhirmu pun, masih memberikan pelajaran buat kami yang masih tertinggal di dunia fana ini, yakni Ikhlas..Ikhlas menerima rasa sakit dan Ikhlas menerima takdir..
Love U always..
RIP Sabtu 12 Oktober 2013 15:55pm


