Senin, 07 Februari 2011

FOR MY SPECIAL ONE

Jakarta, 11 Februari 2011

Tepat lima tahun lalu, sebagai wanita, saya merasa utuh. Saya melahirkan seorang bayi laki-laki sehat, dengan tinggi badan dan berat yang cukup, nilai apghar yang tinggi, pokoknya walaupun kelahirannya harus melalui proses operasi, saya bahagia sekali.

Laki-laki kecil itu kami berinama Rangga Hadi Febrian, yang artinya lelaki cendekia yang bisa memberikan petunjuk dan dijadikan panutan, lahir pada bulan Februari.

Rangga kecil terus tumbuh, sesuai dengan harapan kami (setidaknya itu yang saya pikir). Dia tumbuh dan berkembang sesuai dengan petunjuk dalam berbagai macam buku yang menjadi referensi saya.

Satu tahun pertamanya, Rangga sempat membuat saya paranoid, karena tiga kali harus menjali perawatan di rumah sakit karena terserang demam tinggi. Sebagai orang tua baru, ketika bayi kecilnya panas tinggi dan sudah berhari-hari, tentunya langsung panik dan takut.

Di tahun kedua umurnya, Rangga kami masukkan ke kelompok bermain. Bukan tanpa alasan saya memasukkannya ke kelompok bermain walaupun saat itu usianya baru 2 tahun lebih. Bukan karena ‘gaya-gayaan’ anak kecil sudah disekolahkan, tetapi lebih karena Rangga pada saat itu takut untuk bertemu orang baru, cenderung tidak memiliki teman bermain yang sebaya, saya juga bekerja, sehingga harus meninggalkannya di rumah dan belum bisa berbicara dengan baik, hanya beberapa kata yang bisa dia ucapkan.

Saya dan suami memutuskan untuk memasukkan Rangga ke kelompok bermain yang menurut kami bagus di sekitar tempat tinggal kami. Baru beberapa kali masuk sekolah, tiba-tiba koordinator guru di tempat itu mengatakan, “Bu sepertinya anak ibu ada kelainan. Saya pikir anak ibu autis. Ini dari apa yang saya amati dalam 3 kali pertemuan ya bu, saya harap ibu bisa menerima apa yang saya omongkan.”

Perkataan korrdinator guru tersebut bagai hantaman buat saya di siang hari. Yang namanya hancur, kaget, shook dll bercampur jadi satu. Terngiang-ngiang di telinga saya waktu si Ibi guru bilang “Sebagai orang tua yang baik, ibu harus menerima anak ibu apa adanya. Jangan denial”

Saya ingin menjerit saat itu... Siapa yang tidak kaget, ketika seorang guru, yang tidak berinteraksi setiap hari dengan anak saya, yang hanya bertemu 3 kali, dan dia juga tidak mengajar anak saya secara langsung, dengan lantangnya menvonis anak saya “Autis”.

Sepulang dari sekolah hari itu, saya menangis sejadi-jadinya. Suami saya hanya bisa diam dan berusaha meyakinkan saya bahwa “our little boy is fine”. Suami saya bersikukuh, guru sekolah Rangga hanya asal ngomong, tanpa data dan hanya berdasarkan pengelihatan sesaat.

Minggu pertama setelah sang guru menvonis anak saya, saya langsung belajar banyak. Saya browsing semua yang berhubungan dengan kata “Autism”. Om Google menjadi sahabat setia saya saat itu. Tidak puas hanya berdasarkan apa yang saya dapatkan dari internet, saya membawa Rangga ke Dokter yang merawatnya sejak dia lahir. Dokter yang tahu riwayat kesehatan anak saya, dari lahir. Sang Dokter yang baik hati itu hanya bilang dan meyakinkan saya, bahwa Rangga tidak Autis. Dia menyarankan saya, untuk membawa Rangga bertemu dengan tim ahli di Klinik Tumbuh Kembang.

Waktu itu sang Dokter memberikan wejangan yang menyejukkan hati saya. Dia bilang, “Dian, setiap anak yang lahir ke dunia ini, membawa keunikannya sendiri-sendiri. Saya tidak setuju dengan pendapat ahli yang memiliki teori anak umur sekian harus bisa ini dan itu. Tetapi untuk menghilangkan kegelisahan kamu, tidak ada salahnya kamu bawa Rangga untuk bertemu dengan ahlinya. Saya yakin bukan Autism, tetapi saya pikir anak kamu unik”

Setelah kejadian itu, tidak serta merta saya membawa Rangga untuk bertemu dengan ahlinya. Saya bertahan sambil memperhatikan perkembangannya. Jujur, saya tidak bisa terima dengan vonis itu, namun setengah diri saya yang lain, ingin mengetahui lebih jauh ada apa dengan anak saya. Apa benar apa yang dilihat orang lain, karena sebagai ibu yang melahirkannya, saya tidak bisa obyektif melihat suatu masalah.

Cukup lama, sekitar hampir satu tahun dari vonis yang dijatuhkan untuk Rangga oleh sang guru, baru saya berani membawanya ketemu dengan ahlinya. Saya bawa Rangga untuk bertemu dengan seorang psikolog anak. Yang akhirnya membuat saya bulat hati untuk membawa ke psikolog karena Rangga susah sekali konsentrasi. Konsentrasinya mudah sekali teralihkan. Dia bisa bertahan lebih dari 5 menit, itu sudah bagus, seringnya tidak lebih dari 2 menit, konsentrasinya langsung teralihkan. Bicaranya pun belum lancar, sudah bisa mengutarakan maksudnya, namun hanya dalam 3-4 kata paling banyak, sementara keponakan saya yang usianya sama, hanya beda beberapa minggu, sudah lancar bicara.

Hasil pertemuan kami dengan sang psikolog anak tidak bagus, tetapi juga tidak buruk. Rangga dinilai bukan Autis, namun dia mengalami delayed. Bukan ADHD ( Attention Deficit Hyperactivity Disorder) , tetapi lebih kepada Learning Disorder. Untuk meyakinkan dugaan tersebut, sang Psikolog meminta saya untuk membawa Rangga melakukan assastment di klinik tumbuh kembang.

Rangga menjalani assesement pertamanya pada usia tiga tahun lebih. Menjelang empat tahun. Dari assesment yang dijalaninya, para ahli menyimpulkan Rangga mengalami delayed yang tidak jauh dari anak seusianya. Dari sisi kecerdasan, dia sangat baik, sangat cepat menyerap apa yang diberikan, namun dari sisi pengungkapan dan kemampuan sosialisasi dan bahasa dia kurang. Seperti halnya Psikolog anak yang sudah kami temui sebelumnya, menurut hasil assesement, apabila tidak dilakukan terapi, Rangga bisa mengalami learning disorder. Dikhawatirkan, pada saat sekolah, dia bisa tidak naik kelas, bukan karena tidak mampu mengikuti pelajaran, namun karena dia tidak mau mengikuti peraturan ataupun tugas yang diberikan oleh sang guru. Pada saat assesement itupun, saya bertanya kepada sang psikolog, apakah Rangga bisa disekolahkan di sekolah umum, atau harus bersekolah di sekolah bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Jawabannya bisa disekolah umum. Maka mulai saat itu, Rangga menjalani sekolah di kelompok bermain umum dan menjalani terapi disebuah klinik terapi bagi anak-anak yang membutuhkan, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus.

Memasuki bulan Januari tahun lalu, usia Rangga sudah hampir empat tahun, saya memberanikan diri untuk mendaftarkan Rangga ke sebuah TK Islam yang terkenal di sekitar tempat tinggal kami. Saya jujur deg-degan pada saat itu, karena Rangga harus menjalani serangkaian test, yang istilahnya pada saat itu adalah observasi. Pada usia menjelang empat tahun, dan baru menjalani kurang lebih satu bulan terapi, Rangga sudah lancar membaca. Sehingga pada saat observasi dilakukan Rangga dengan mudahnya mengikuti petunjuk, hanya pada saat dia bisa membaca, sementara perintah lainnya, Rangga mengikuti dengan asal-asalan saja.

Sebelumnya pada saat mendaftar, saya sudah mengutarakan keadaan Rangga yang sedang menjalani terapi. Hal yang saya khawatirkan terjadi. Dua hari setalah test dilakukan, saya ditelepon oleh pihak sekolah,yang menyatakan Rangga harus menjalani test yang kedua, karena pada test pertama nilainya tidak mencukupi. Saya berusaha kuat, karena saya harus kuat. Beberapa hari setelahnya, Kepala Sekolah mengundang saya untuk bertemu. Saya berbicara dan bertukar pikiran dengan ibu Kepala sekolah. Dari Ibu Kepala Sekolah saya ketahui pada saat test yang pertama, nilai Rangga hanya beberapa poin di bawah passing grade. Setelah diulang, dengan kondisi Rangga yang relatif lebih fresh (karena pada test pertama Rangga kemungkinan lelah setelah menghadiri pernikahan sepupu saya), nilai Rangga melonjak, memang bukan yang terbaik, namun diatas anak-anak lain.

Kepala sekolah bahkan meminta saya untuk melakukan test kecerdasan untuk Rangga, karena beberapa anak yang memang kecerdasannya diatas rata-rata.

Terapi bagi Rangga terus dilakukan. Test observasi dilakukan enam bulan sebelum Rangga mulai bersekolah di TK tersebut. Selama enam bulan, banyak yang coba dikejar oleh Rangga,salahsatunya terapi untuk memperlancar gerak motorik halusnya.

Awal Rangga mulai sekolah, saya tidak lepas dari rasa khawatir. Apakah Rangga bisa mengkuti pelajaran yang diberikan? Apakah Rangga bisa duduk tenang dan berkonsentrasi dengan baik selama masa pelajaran? Dan masih banyak berbagai kekhawatiran dalam diri saya. Istilahnya Rangga yang sekolah, saya yang sakit perut karena khawatir.

Sejalan dengan waktu, saya bersyukur pada Tuhan. Rangga memperlihatkan kemajuan yang buat saya, sangat menakjubkan.

Di usianya yang baru menginjak 5 tahun, per hari ini, dia sudah mahir menggunakan komputer, walaupun untuk bermain, namun dia justru bisa menemukan hal-hal yang saya sendiri tidak bisa, seperti mengganti background desktop (mungkin untuk sebagian orang ini hal biasa, tetapi bagi saya, hal ini luar biasa).

Rangga juga sangat familiar dengan berbagai macama gedget, bisa membaca dengan lancar, mulai sedikit mengerti Bahasa Inggris, dan sangat menyukai pelajaran matematika. Dia sudah mahir melakukan penjumlahan dan pengurangan, bahakan dia menyukai soal cerita untuk pelajaran matematikanya. Dia juga sudah bisa menulis dengan baik, bahkan saya sudah bisa mendiktenya untuk menuliskan apa yang saya mau.

Baru beberapa hari yang lalu, saya membawa Rangga untuk bertemu dengan Om Dokter (begitu Rangga memanggil Dokter yang merawatnya dari bayi) karena badannya panas sudah tiga hari. Om Dokter sangat takjub dengan perkembangan Rangga yang sudah hampir satu tahun tidak bertemu dengannya.

Rangga menuliskan nama-nama teman sekelasnya disebuah kertas, sambil bercerita ke Om Dokter tentang teman-temannya itu. Rangga juga mengatakan langsung ke om Dokter apa yang dikeluhkannya.
Om Dokter kembali meyakinkan saya, tidak ada yang salah dengan Rangga. Rangga bisa berkembang dengan baik sesuai umurnya.

Dibalik itu semua, apa yang terjadi pada Rangga membuat saya kembali belajar. Belajar banyak hal, belajar tabah, belajar sabar, belajar menerima, belajar berusaha dan belajar untuk Ikhlas.

I love u darling and I promise u you can count on me forever...

Selamat Ulang Tahun anakku sayang, Ibu sayang kamu... Tetaplah menjadi inspirasi bagiku...

Senin, 24 Januari 2011

Dedicated to my assistants

Lagi-lagi ini pengalaman lama, tapi ini merupakan pengalaman saya pertama kali tanpa Assistant ketika anak saya beranjak besar... :)

"MY DAY WITHOUT ASSISTANT"
Jauh sebelum saya memutuskan untuk menikah, bahkan jauh sebelum saya bertemu dengan suami saya, saya sudah memutuskan bahwa suatu hari nanti, saya akan menjadi seorang ibu bekerja. Pada saat itu saya berfikir,pastinya asyik kalau saya punya karir yang baik, sekaligus memiliki keluarga yang menyayangi dan siap menyambut pada saat saya pulang dari kerja. Disisi lain saya juga sudah dapat memastikan, dengan saya sibuk mengejar karir dan ambisi pribadi saya, saya pasti akan sangat tergantung kepada orang-orang yang membantu saya, dalam menjalankan “pekerjaan-pekerjaan rumah tangga”.
Ketika saya menikah, saya masih tidak kepikiran untuk memperkerjakan seseorang untuk membantu saya, toh saya masih tinggal dengan orang tua, dan orang tua saya masih memperkerjakan dua orang pekerja rumah tangga. Ketika saya melahirkanpun, saya masih tidak dipusingkan dengan urusan mencari “assistant” karena saya masih tinggal dengan orang tua, sehingga salahsatu dari kedua pekerja yang ada di rumah orang tua sayapun, saya didik menjadi pengasuh anak saya.
Pencarian dan kebutuhan akan adanya assistant mulai muncul, ketika pengasuh anak saya tiba-tiba memutuskan untuk tidak lagi bekerja pada saya. Ketika itu, anak saya masih berusia 1 tahun. Saat itu yang ada dipikiran saya hanyalah saya harus mendapatkan pengasuh secepatnya. Saya mencoba menelfon seluruh keluarga saya, berharap salahsatu dari mereka memiliki informasi, atau salahsatu dari pekerja yang tinggal di rumah mereka memiliki saudara dari kampung, yang memang sedang mencari kerja. Saya bahkan sempat cuti seminggu lamanya sambil menunggu datangnya pengasuh bagi anak saya.
Hal lain yang membuat saya kebingungan untuk mencari “assistant”, adalah saat liburan Idul Fitri tiba. Ketika anak saya berusia satu sampai dua tahun, tanpa pengasuh disisi saya, dimusim Lebaran, dan semua “assistant” kami pulang untuk berlebaran dengan keluarga mereka, semuanya bisa teratasi. Anak saya masih bisa “diikat” di strolernya, sementara saya sibuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, seperti menyapu, mengepel, mencuci piring, dan mencuci baju. Saya bahkan berbagi tugas dengan ibu dan suami untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dan menjaga anak kami.
Namun Lebaran tahun ini berbeda dengan Lebaran tahun-tahun sebelumnya. Khusus tahun ini, saya sedikit was-was saat ditinggal oleh assistant saya yang setia mudik ke kampung halaman mereka.

Pertama, saya baru saja memulai pekerjaan saya di tempat yang baru, sehingga sangat mustahil untuk saya mengajukan cuti tahunan (karena memang masih belum memiliki hak cuti). Sementara suami saya juga tidak kebagian jatah untuk mengambil cuti karena temannya sudah terlebih dahulu mengajukan cuti.
Alasan kedua, pengasuh dan juga pekerja rumah tangga saya, keduanya memilih untuk menghabiskan masa cuti mereka pada saat Lebaran, walaupun awalnya saya sudah menawarkan kepada mereka, agar salahsatu dari mereka mengambil cuti pada sebelum Lebaran tiba, sehingga saat Lebaran tiba, entah pengasuh anak saya, entah pekerja rumah tangga saya masih ada.
Ketiga, lebaran kali ini, anak lelaki saya sudah berusia 3 tahun lebih, dan masa ini merupakan masa “teraktif” bagi seorang bocah lelaki. Anak saya sedang memasuki tahap dimana sulit sekali untuk disuruh diam dan berhenti bergerak walaupun hanya 5 menit, selain itu anak saya juga sedang memasuki tahap tidak mau mendengarkan perkataan saya , dan bertanya kenapa dia dilarang untuk melakukan sesuatu. Sejujurnya,hal inilah yang paling membuat saya khawatir.
Tepat pada hari raya Idul Fitri kemarin contohnya. Dengan sangat terpaksa, saya harus melakukan sholat dengan konsentrasi terpecah, karena anak saya menolak untuk ikut ke mesjid, yang jaraknya tidak sampai 50 meter dari rumah saya. Alhasil, ketika Imam baru saja mengucapkan Assalamualaikum, tanda sholat Idul Fitri baru saja berakhir, tanpa mendengarkan khotbah, saya langsung berlari menuju rumah untuk melihat anak saya, yang ternyata masih asyik mendengarkan lagu-lagu kesukaannya di tempat saya tinggalkan.
Kembali ke masalah pencarian “assistan” . Karena ketiga alasan yang telah jabarkan diatas, maka saat lebaran tahun ini, saya sempat terfikir untuk mengambil pekerja rumah tangga infal, yang banyak ditawarkan di brosur, ataupun selebaran yang ada di rumah saya. Tanpa membuang kesempatan,saya langsung mencoba menghubungi beberapa nomor telphone yang tertera di iklan penyedia pekerja rumah tangga sementara, namun ketika saya mencoba menghubungi mereka, semua penyedia jasa pekerja infal menerapkan tariff yang tidak murah (yang jelas tidak sesuai dengan isi kantong saya).
Untuk uang muka yang harus disetorkan ke penyalur saja, saya harus merogoh kocek 450 hingga 500 ribu rupiah, sedangkan untuk upah pekerja infal perharinya, berkisar antara 75 hingga 100 ribu rupiah. Pilihan untuk mencari “assistant” sementara melalui penyalur infal akhirnya harus dihapus dari list saya.
Sayapun mencoba alternative lain, dengan mencari orang disekitar rumah ibu saya, untuk dimintai tolong melakukan pekerjaan rumah tangga, sehingga saya dan ibu saya bisa berkonsentrasi menjaga anak lelaki saya. Namun sekali lagi saya harus menelan kecewa, karena orang yang awalnya berjanji untuk bekerja paruh waktu di tempat tinggal kami, dengan bayaran 300 ribu selama dua minggu, tidak kunjung datang ke rumah kami.
Setelah melewati berbagai pencarian “assistant” sementara gagal, akhirnya saya memutuskan untuk melewati Lebaran kali ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, berempat dengan suami, anak, serta ibu saya tanpa bantuan apapun. Namun dibalik sesuatu yang awalnya saya anggap beban berat ini, ada suatu berkah yang dapat saya petik.

Saya seperti diberi kesempatan oleh Tuhan, untuk lebih mengenal anak saya. Dengan kesibukan saya meniti karir, saya seperti diberi waktu baru untuk memahami karakter anak saya yang mulai berkembang, dengan kepintaran-kepintaran yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya. Selain itu, dengan sulitnya saya mendapatkan “assistant” pengganti, saya seperti diingatkan untuk lebih menghargai orang yang bekerja dengan saya, karena saya tidak bisa hidup tanpa “assistant-assistant” saya yang setia…

Happy Eid Mubarak 1430 H
This is dedicated to all my assistant
Thank you so much girls, for helping me

Mengenang Dek To...

Ini bukan goresan baru, ini merupakan goresan ketika saya merasa kehilangan seorang sepupu, yang sama sekali tidak saya duga. Almarhum pernah tinggal di rumah orangtua saya, dan itu membuat saya cukup mengenang almarhum dengan baik.

Hampir tiga tahun, almarhum meninggalkan kami keluarga besarnya... May you rest in piece brother, I know you have better place right now...

"CERITA TENTANG KEHILANGAN"
Kita tidak pernah tau kapan waktu kita akan habis

Seseorang yang tiba-tiba sehat walafiat beberpa bulan sebelumnya, tiba-tiba mengindap penyakit yang mengerikan...

Seseorang yang terlihat segar bugar, ternyata harus menyerah di meja operasi..

Dibalik itu semua..ada kisah sedih yang menyertai kehilangan itu..

Beberapa minggu lalu saudara sepupuku meninggal dunia diusianya yang baru 47 tahun dan meninggalkan 3 orang anaknya yang masih kecil.

Banyak dari kami yang sedih, karena sang ibu tidak bekerja dengan beban anak-anak yang masih kecil, terutama anak bungsu almarhum, yang baru kelas 1 SD..

Dia tidak tau apa artinya ditinggal sang ayah, yang dia tau ayahnya tidur selama-lamanya dan ketemu Tuhan di surga..

Ketika jenazah almarhum akan dimasukkan ke liang kubur, tiba-tiba sang anak melontarkan pertanyaan sederhana,namun itulah yang dapat diterima nalar seorang anak berusia 6 tahun..

"Mama kenapa HP Papa tidak dibawain bareng Papa, kan kalau dibawain aku bisa telfon-telfonan sama Papa di surga"

Sederhana, tetapi cukup membuat semua orang yang ada di pemakaman tercekat dan menitikkan air mata..



Innalilahi Wainailahi Rojiun
May you rest in peace brother...

My Simple Life

Citra Graha, 24 Januari 2011

Saya bukanlah seorang penulis yang baik, cuma makin lama saya merasa bahwa saya butuh sesuatu untuk menyalurkan sesuatu yang saya rasakan.
Saya hanya seorang ibu dari anak super (menurut saya ya :) ) yang kebetulan juga bekerja sebagai jurnalis di sebuah televisi berbayar yang sedang dibangun.