Jakarta, 11 Februari 2011
Tepat lima tahun lalu, sebagai wanita, saya merasa utuh. Saya melahirkan seorang bayi laki-laki sehat, dengan tinggi badan dan berat yang cukup, nilai apghar yang tinggi, pokoknya walaupun kelahirannya harus melalui proses operasi, saya bahagia sekali.
Laki-laki kecil itu kami berinama Rangga Hadi Febrian, yang artinya lelaki cendekia yang bisa memberikan petunjuk dan dijadikan panutan, lahir pada bulan Februari.
Rangga kecil terus tumbuh, sesuai dengan harapan kami (setidaknya itu yang saya pikir). Dia tumbuh dan berkembang sesuai dengan petunjuk dalam berbagai macam buku yang menjadi referensi saya.
Satu tahun pertamanya, Rangga sempat membuat saya paranoid, karena tiga kali harus menjali perawatan di rumah sakit karena terserang demam tinggi. Sebagai orang tua baru, ketika bayi kecilnya panas tinggi dan sudah berhari-hari, tentunya langsung panik dan takut.
Di tahun kedua umurnya, Rangga kami masukkan ke kelompok bermain. Bukan tanpa alasan saya memasukkannya ke kelompok bermain walaupun saat itu usianya baru 2 tahun lebih. Bukan karena ‘gaya-gayaan’ anak kecil sudah disekolahkan, tetapi lebih karena Rangga pada saat itu takut untuk bertemu orang baru, cenderung tidak memiliki teman bermain yang sebaya, saya juga bekerja, sehingga harus meninggalkannya di rumah dan belum bisa berbicara dengan baik, hanya beberapa kata yang bisa dia ucapkan.
Saya dan suami memutuskan untuk memasukkan Rangga ke kelompok bermain yang menurut kami bagus di sekitar tempat tinggal kami. Baru beberapa kali masuk sekolah, tiba-tiba koordinator guru di tempat itu mengatakan, “Bu sepertinya anak ibu ada kelainan. Saya pikir anak ibu autis. Ini dari apa yang saya amati dalam 3 kali pertemuan ya bu, saya harap ibu bisa menerima apa yang saya omongkan.”
Perkataan korrdinator guru tersebut bagai hantaman buat saya di siang hari. Yang namanya hancur, kaget, shook dll bercampur jadi satu. Terngiang-ngiang di telinga saya waktu si Ibi guru bilang “Sebagai orang tua yang baik, ibu harus menerima anak ibu apa adanya. Jangan denial”
Saya ingin menjerit saat itu... Siapa yang tidak kaget, ketika seorang guru, yang tidak berinteraksi setiap hari dengan anak saya, yang hanya bertemu 3 kali, dan dia juga tidak mengajar anak saya secara langsung, dengan lantangnya menvonis anak saya “Autis”.
Sepulang dari sekolah hari itu, saya menangis sejadi-jadinya. Suami saya hanya bisa diam dan berusaha meyakinkan saya bahwa “our little boy is fine”. Suami saya bersikukuh, guru sekolah Rangga hanya asal ngomong, tanpa data dan hanya berdasarkan pengelihatan sesaat.
Minggu pertama setelah sang guru menvonis anak saya, saya langsung belajar banyak. Saya browsing semua yang berhubungan dengan kata “Autism”. Om Google menjadi sahabat setia saya saat itu. Tidak puas hanya berdasarkan apa yang saya dapatkan dari internet, saya membawa Rangga ke Dokter yang merawatnya sejak dia lahir. Dokter yang tahu riwayat kesehatan anak saya, dari lahir. Sang Dokter yang baik hati itu hanya bilang dan meyakinkan saya, bahwa Rangga tidak Autis. Dia menyarankan saya, untuk membawa Rangga bertemu dengan tim ahli di Klinik Tumbuh Kembang.
Waktu itu sang Dokter memberikan wejangan yang menyejukkan hati saya. Dia bilang, “Dian, setiap anak yang lahir ke dunia ini, membawa keunikannya sendiri-sendiri. Saya tidak setuju dengan pendapat ahli yang memiliki teori anak umur sekian harus bisa ini dan itu. Tetapi untuk menghilangkan kegelisahan kamu, tidak ada salahnya kamu bawa Rangga untuk bertemu dengan ahlinya. Saya yakin bukan Autism, tetapi saya pikir anak kamu unik”
Setelah kejadian itu, tidak serta merta saya membawa Rangga untuk bertemu dengan ahlinya. Saya bertahan sambil memperhatikan perkembangannya. Jujur, saya tidak bisa terima dengan vonis itu, namun setengah diri saya yang lain, ingin mengetahui lebih jauh ada apa dengan anak saya. Apa benar apa yang dilihat orang lain, karena sebagai ibu yang melahirkannya, saya tidak bisa obyektif melihat suatu masalah.
Cukup lama, sekitar hampir satu tahun dari vonis yang dijatuhkan untuk Rangga oleh sang guru, baru saya berani membawanya ketemu dengan ahlinya. Saya bawa Rangga untuk bertemu dengan seorang psikolog anak. Yang akhirnya membuat saya bulat hati untuk membawa ke psikolog karena Rangga susah sekali konsentrasi. Konsentrasinya mudah sekali teralihkan. Dia bisa bertahan lebih dari 5 menit, itu sudah bagus, seringnya tidak lebih dari 2 menit, konsentrasinya langsung teralihkan. Bicaranya pun belum lancar, sudah bisa mengutarakan maksudnya, namun hanya dalam 3-4 kata paling banyak, sementara keponakan saya yang usianya sama, hanya beda beberapa minggu, sudah lancar bicara.
Hasil pertemuan kami dengan sang psikolog anak tidak bagus, tetapi juga tidak buruk. Rangga dinilai bukan Autis, namun dia mengalami delayed. Bukan ADHD ( Attention Deficit Hyperactivity Disorder) , tetapi lebih kepada Learning Disorder. Untuk meyakinkan dugaan tersebut, sang Psikolog meminta saya untuk membawa Rangga melakukan assastment di klinik tumbuh kembang.
Rangga menjalani assesement pertamanya pada usia tiga tahun lebih. Menjelang empat tahun. Dari assesment yang dijalaninya, para ahli menyimpulkan Rangga mengalami delayed yang tidak jauh dari anak seusianya. Dari sisi kecerdasan, dia sangat baik, sangat cepat menyerap apa yang diberikan, namun dari sisi pengungkapan dan kemampuan sosialisasi dan bahasa dia kurang. Seperti halnya Psikolog anak yang sudah kami temui sebelumnya, menurut hasil assesement, apabila tidak dilakukan terapi, Rangga bisa mengalami learning disorder. Dikhawatirkan, pada saat sekolah, dia bisa tidak naik kelas, bukan karena tidak mampu mengikuti pelajaran, namun karena dia tidak mau mengikuti peraturan ataupun tugas yang diberikan oleh sang guru. Pada saat assesement itupun, saya bertanya kepada sang psikolog, apakah Rangga bisa disekolahkan di sekolah umum, atau harus bersekolah di sekolah bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Jawabannya bisa disekolah umum. Maka mulai saat itu, Rangga menjalani sekolah di kelompok bermain umum dan menjalani terapi disebuah klinik terapi bagi anak-anak yang membutuhkan, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus.
Memasuki bulan Januari tahun lalu, usia Rangga sudah hampir empat tahun, saya memberanikan diri untuk mendaftarkan Rangga ke sebuah TK Islam yang terkenal di sekitar tempat tinggal kami. Saya jujur deg-degan pada saat itu, karena Rangga harus menjalani serangkaian test, yang istilahnya pada saat itu adalah observasi. Pada usia menjelang empat tahun, dan baru menjalani kurang lebih satu bulan terapi, Rangga sudah lancar membaca. Sehingga pada saat observasi dilakukan Rangga dengan mudahnya mengikuti petunjuk, hanya pada saat dia bisa membaca, sementara perintah lainnya, Rangga mengikuti dengan asal-asalan saja.
Sebelumnya pada saat mendaftar, saya sudah mengutarakan keadaan Rangga yang sedang menjalani terapi. Hal yang saya khawatirkan terjadi. Dua hari setalah test dilakukan, saya ditelepon oleh pihak sekolah,yang menyatakan Rangga harus menjalani test yang kedua, karena pada test pertama nilainya tidak mencukupi. Saya berusaha kuat, karena saya harus kuat. Beberapa hari setelahnya, Kepala Sekolah mengundang saya untuk bertemu. Saya berbicara dan bertukar pikiran dengan ibu Kepala sekolah. Dari Ibu Kepala Sekolah saya ketahui pada saat test yang pertama, nilai Rangga hanya beberapa poin di bawah passing grade. Setelah diulang, dengan kondisi Rangga yang relatif lebih fresh (karena pada test pertama Rangga kemungkinan lelah setelah menghadiri pernikahan sepupu saya), nilai Rangga melonjak, memang bukan yang terbaik, namun diatas anak-anak lain.
Kepala sekolah bahkan meminta saya untuk melakukan test kecerdasan untuk Rangga, karena beberapa anak yang memang kecerdasannya diatas rata-rata.
Terapi bagi Rangga terus dilakukan. Test observasi dilakukan enam bulan sebelum Rangga mulai bersekolah di TK tersebut. Selama enam bulan, banyak yang coba dikejar oleh Rangga,salahsatunya terapi untuk memperlancar gerak motorik halusnya.
Awal Rangga mulai sekolah, saya tidak lepas dari rasa khawatir. Apakah Rangga bisa mengkuti pelajaran yang diberikan? Apakah Rangga bisa duduk tenang dan berkonsentrasi dengan baik selama masa pelajaran? Dan masih banyak berbagai kekhawatiran dalam diri saya. Istilahnya Rangga yang sekolah, saya yang sakit perut karena khawatir.
Sejalan dengan waktu, saya bersyukur pada Tuhan. Rangga memperlihatkan kemajuan yang buat saya, sangat menakjubkan.
Di usianya yang baru menginjak 5 tahun, per hari ini, dia sudah mahir menggunakan komputer, walaupun untuk bermain, namun dia justru bisa menemukan hal-hal yang saya sendiri tidak bisa, seperti mengganti background desktop (mungkin untuk sebagian orang ini hal biasa, tetapi bagi saya, hal ini luar biasa).
Rangga juga sangat familiar dengan berbagai macama gedget, bisa membaca dengan lancar, mulai sedikit mengerti Bahasa Inggris, dan sangat menyukai pelajaran matematika. Dia sudah mahir melakukan penjumlahan dan pengurangan, bahakan dia menyukai soal cerita untuk pelajaran matematikanya. Dia juga sudah bisa menulis dengan baik, bahkan saya sudah bisa mendiktenya untuk menuliskan apa yang saya mau.
Baru beberapa hari yang lalu, saya membawa Rangga untuk bertemu dengan Om Dokter (begitu Rangga memanggil Dokter yang merawatnya dari bayi) karena badannya panas sudah tiga hari. Om Dokter sangat takjub dengan perkembangan Rangga yang sudah hampir satu tahun tidak bertemu dengannya.
Rangga menuliskan nama-nama teman sekelasnya disebuah kertas, sambil bercerita ke Om Dokter tentang teman-temannya itu. Rangga juga mengatakan langsung ke om Dokter apa yang dikeluhkannya.
Om Dokter kembali meyakinkan saya, tidak ada yang salah dengan Rangga. Rangga bisa berkembang dengan baik sesuai umurnya.
Dibalik itu semua, apa yang terjadi pada Rangga membuat saya kembali belajar. Belajar banyak hal, belajar tabah, belajar sabar, belajar menerima, belajar berusaha dan belajar untuk Ikhlas.
I love u darling and I promise u you can count on me forever...
Selamat Ulang Tahun anakku sayang, Ibu sayang kamu... Tetaplah menjadi inspirasi bagiku...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar