Jumat, 18 Oktober 2013

IKHLAS

Tulisan ini juga saya dedikasikan untuk keluarga besar saya, terutama untuk Bude saya Johanna Paat , yang baru saja kehilangan Her Other Half dan dua sepupu saya Mas Pri dan istrinya Mba Jul, dan Mba Pungky, yang super hebat. Hari ini, Jumat 18 Okotober 2013, tepat 7 hari berpulangnya Pakde saya, FX Rayanto.

Kalau boleh flash back sedikit, masih teringat jelas pada Selasa 1 Oktober lalu, ketika saya bekerja sambil ngecek twitter (ketahuan ya, kerjaannya disela-sela kerja ngecek twitter..jadi malu) tiba-tiba saya dikagetkan dengan twit sepupu saya tercinta, yang menginfokan Pakde saya tiba-tiba anfal. Saya mencoba membagi informasi ini kepada keluarga besar. Saat itu ngga tahu kenapa saya langsung punya feeling ngga enak. Kami semua mencoba menelfon Bude dan Mba Pungky untuk menkonfirmasi apa yang terjadi dan bagaimana keadaan Pakde saya, namun tidak ada satupun dari kami yang berhasil. Saya mencoba menenangkan semua orang, dengan bilang mungkin Bude dan Mba Pungky lagi sibuk, dan keadaan Pakde masih baik-baik saja.

Saat itu juga, saya langsung menelpon Ibu saya yang kebetulan berdomisili di Yogyakarta dan mengabarkan peristiwa ini. Seketika Ibu saya langsung berkata
"Ibu beli tiket sekarang juga, sekarang juga Ibu berangkat ke Jakarta."
Saya mencoba menahan dengan mengatakan "Ngga usah Bu, tunggu berita aja, mudah-mudahan Pakde ngga apa-apa."
Tapi Ibu saya masih ngotot, dia bilang "Feeling Ibu ngga enak, Ibu mau ada disamping Pakde apalagi kalau sampai ngga ada umur. Kalau Ibu ngga kesana sekarang, Ibu ngga mau nyesel nantinya"
Akhirnya saya menyerah dan hanya bisa bilang ke Ibu saya untuk berhati-hati.
Hari itu, saya kerja sama sekali ngga konsen, kepikiran dan khawatir, apalagi setelah menerima pesan dari sepupu saya, yang mengatakan Pakde masuk ICU, sempet hilang nafas dan sekarang harus menggunakan ventilator (alat bantu nafas). Ingin rasanya lari langsung ke Rumah Sakit, tapi keadaan saat itu kurang memungkinkan, karena Rangga lagi UTS, dan saya masih harus mendampingi dia belajar.

Sore hari, saya tidak bisa menahan air mata, ketika sepupu saya mengirimkan foto keadaan Pakde hari itu. Saya cuma bisa berdoa, supaya Allah memberikan yang terbaik bagi beliau, kalau memang mau diambil dan dihilangkan semua rasa sakitnya, cepatlah diambil, namun apabila Allah ingin memberikan mukjizat dan membuat Pakde sehat kembali, sembuhkanlah. Hanya itu yang bisa saya lakukan, tidak ada yang lain.


Saat saya berkesempatan untuk menjenguk beliau pertama kali, saya mencoba sekuat tenaga untuk tidak menangis. Jujur menahan tangis saat melihat keadan beliau susah sekali. Ketika berada di ruangan Pakde, sayapun jadi salah tingkah. Saya masuk bersama sepupu saya, Mba Pungky, dan entah sepupu saya sadar atau tidak, saya sebisa mungkin tidak melakukan kontak mata dengannya. Bukan karena apa-apa, tapi karena saya takut menangis di depannya. Saat itu yang ada dipikiran saya hanyalah saya harus kuat, saya ngga boleh nangis, kalau saya sampai ngga kuat, gimana saya bisa memberikan kekuatan buat sepupu saya. Tidak ada 10 menit saya di dalam kamar, saya akhirnya menyerah. Mencoba menggunakan alasan ingin ke kamar kecil, saya keluar karena ngga tahan. Saya tidak mau terlihat menangis di depan sepupu saya.

Hari demi hari, hingga lewat dari seminggu  setelah Pakde dirawat, sama sekali tidak ada perubahan. Pakde tetap seperti keadaannya ketika masuk RS, tidak ada respon, dan masih menggunakan semua alat yang menempel di tubuhnya, terutama ventilator. Dilema mulai menghinggapi keluarga besar kami. Bagaimana ke depannya? Sampai kapan Pakde akan seperti ini? Apakah ini merupakan jalan terbaik?

Rabu sore minggu lalu, ketika Ibu saya menginap di rumah saya, handphonenya berbunyi, ternyata itu dari om saya. Intinya Om saya meminta Ibu untuk ikut rapat keluarga malam itu, namun Ibu saya menolak dengan halus, dengan menggunakan alasan masih berada di rumah saya. Ketika telpon ditutup Ibu saya bilang, "Sebenarnya alasan Ibu ngga mau datang rapat bukan apa-apa, Ibu ngga tega dan pasti nangis, mending disini."

Saya sempat diinfokan hasil rapat keluarga terakhir mengenai apa yang akan dilakukan. Mendengar bagaimana hasil rapat, lagi-lagi dilematis. Sebagai keponakan saja, buat saya, itu adalah keputusan yang sangat berat dan dilematis. Saya 1000 persen bisa mengerti, bagaimana perasaan kedua sepupu saya, terutama perasaan Bude saya.

Jumat sore lalu ketika saya sedang menunggu suami, tiba-tiba pesan masuk dari sepupu saya, meminta agar memberi tahu keluarga besar untuk berkumpul di rumah sakit esok harinya. Keputusan sudah diambil, suka atau tidak suka, kami semua yakin, ini lah yang terbaik untuk semua, terutama buat Pakde. Bingung banget gimana mesti mengetik di grup keluarga mengenai permintaan sepupu saya. Saya ngetik sambil nangis, nunduk di tengah cafe biar ngga ada orang yang sadar kalau saya sedang menangis. Di mobil dalam perjalanan pulang, lagi-lagi saya menangis ketika bercerita ke suami saya. Ngga tau mesti gimana, separuh tenaga rasanya hilang, sejak menerima pesan dari sepupu saya, menguap entah kemana..

Sabtu siang semua berkumpul..Berkumpul untuk dengan Ikhlas melepas kepergian Pakde, sekaligus saling memberi support dan kekuatan. Semua berusaha tertawa, walaupun dalam hati kita semua tidak siap. Tidak ada yang pernah siap ketika kita dihadapkan pada pilihan seperti ini. Dilematis? Pasti ..sangat dilematis.. Ikhlas? Antara Ikhlas dan ngga Ikhlas..tapi dibalik itu semua kami semua yakin, inilah yang terbaik dan ini yang dikehendaki Allah buat kami semua, terutama buat Pakde. Saat makan siang, sebelum sepupu saya Mba Pungky bergabung dengan kami saya sempat bertanya kepada keluarga besar saya, kenapa tidak ada satu pun yang merespon, ketika saya mengabarkan permintaan Mba Pungky, untuk berkumpul. Jawaban mereka semua sama, tidak tahu mesti gimana, separuh tenaga langsung menguap ketika membaca pesan yang saya tulis.

Hari itu, kami keluarga besar seperti menghitung mundur waktu..Antara siap ngga siap dan tidak tahu harus bagaimana..Cuma doa yang terus kami panjatkan, sampai akhirnya sekitar pukul 3 kurang, kami semua diminta untuk ke ruang ICU, diberi kesempatan untuk melihat beliau sebelum semua alat dilepas. Tidak banyak yang kami lakukan, saya sendiri hanya bisa menangis dan membisikan permintaan maaf ke beliau dan berharap agar semua penyakit yang selama ini beliau rasa dihilangkan,sehingga beliau tidak lagi merasa sakit. Setelah semua diberi kesempatan untuk melihat, kami semua diminta keluar, hanya keluarga inti saja yang diminta untuk tinggal. Saya tidak tahu bagaimana proses itu berjalan..namun sekitar pukul 15 lewat 30 menit, kami menerima foto-foto yang menandakan proses mulai berjalan. Kami hanya menunggu..menunggu dan menunggu. Tidak lama dari itu, salah seorang kakak Ibu saya keluar dari ruang ICU dan mengabarkan Pakde sudah berpulang, tepat pukul 15:55. Beliau berpulang dengan damai dan tenang...Tangis kami pun langsung pecah.. Semua menangis, tidak ada satupun dari kami yang tidak menangis..

Ini rasanya, ketika kami semua harus mengambil keputusan yang sangat sulit dan menanti sesuatu yang kami sudah tahu jawabannya.. Ikhlas hanya itu yang bisa dilakukan.. Buat saya pribadi, tangis saya tidak 100% tangis kesedihan, namun juga tangis lega.. Sedih tentunya ketika kita kehilangan orang yang kita sayangi dan hormati, namun juga lega, lega karena beliau tidak lagi merasakan rasa sakit itu, lega karena beliau pergi dengan tenang. Saya juga lega ketika melihat Bude dan kedua sepupu saya dengan Ikhlas menemani detik-detik kepergian beliau..

Selamat Jalan Pakde.. Hilang sudah rasa sakit itu.. Sekarang Pakde pasti sudah bahagia, berkumpul kembali dengan Yang Yi dan Yang Kung, serta saudara-saudara yang sudah mendahului kami semua..Salam cinta saya buat semua yang ada disana..terutama buat Bapak saya..

Terima Kasih Pakde..sampai detik-detik terakhirmu pun, masih memberikan pelajaran buat kami yang masih tertinggal di dunia fana ini, yakni Ikhlas..Ikhlas menerima rasa sakit dan Ikhlas menerima takdir..

Love U always..


Dedicated to my lovely Pakde FX Rayanto Soemartono
RIP Sabtu 12 Oktober 2013 15:55pm

Selasa, 15 Oktober 2013

Terima Kasih Rangga




"Alhamdullilah banget, Terima Kasih ya Allah.." itu adalah kalimat saya ketika saya pertama kali melihat nilai evaluasi Rangga untuk term pertama di kelas II ini. Buat saya, apa yang dihasilkan oleh Rangga adalah sesuatu yang sangat membanggakan. Sebagai anak yang diberi label "Anak Berkebutuhan Khusus" atau "Special Needs Child", prestasi yang ditunjukkan Rangga sangat baik bahkan sangat memuaskan. Setiap saya libur kerja (saya sengaja memilih libur di hari Senin), saya selalu menyempatkan diri untuk bertemu dengan pengajar-pengajar Rangga, tidak hanya di sekolah, tetapi juga di tempat lesnya. Dari hasil konsultasi saya, semua pengajarnya mengatakan saat ini Rangga jauh lebih tenang. Konsentrasinya juga jauh lebih baik dan kemampuannya untuk menyelesaikan soal dan masalah sangat baik, bahkan jauh lebih baik dari pada anak normal sebayanya. Jujur, kadang saya masih takut kalau beberapa kebiasaan Rangga ngga bisa hilang, tapi sekali lagi saya terus mengucap syukur, lambat laun kebiasaan-kebiasaan tersebut mulai luntur. Tidak banyak yang saya harapkan dari Rangga, buat saya, ketika dia bisa mengikuti pelajaran dengan baik dan tidak tertinggal dari teman-temannya sudah cukup.. Tapi prestasi yang ditunjukkan Rangga, sungguh membuat saya bangga. Tidak sedikit orang yang bertanya "Rangga ranking 1 ya? Nilainya gila bagus banget." setelah mereka melihat nilai yang dicapai Rangga. Mungkin saya terkesan "lebay" dan terlalu membangga-banggakan prestasi Rangga, tetapi itulah saya. Saya tahu ini masih terlalu dini, masih panjang jalan yang harus ditempuh oleh anak saya, namun saya dan saya pikir semua orang tua yang anaknya diberi label "ABK" optimistis, mereka mampu, anak kita mampu untuk menghadapi dunia ini..

Sekali lagi saya harus katakan
"Thank you for your hard working Rangga. Ibu so proud of you. I love you more..and more...and more"

Menulis Lagi

Setelah bertahun-tahun membiarkan blog ini kosong melompong, saya memutuskan untuk kembali menulis. Menulis sesuatu yang ada dipikiran saya dan mudah-mudahan bisa menjadi salah satu obat saya ketika saya merasa sedang sumpek. Tulisan-tulisan saya tentunya bukan tulisan yang wah, penuh dengan analisis dan lain-lain. Tulisan saya, hanyalah buah pikiran saya, mudah-mudahan bisa diambil hikmahnya bagi yang berkenan membaca

Best Regards
Dian

Senin, 07 Februari 2011

FOR MY SPECIAL ONE

Jakarta, 11 Februari 2011

Tepat lima tahun lalu, sebagai wanita, saya merasa utuh. Saya melahirkan seorang bayi laki-laki sehat, dengan tinggi badan dan berat yang cukup, nilai apghar yang tinggi, pokoknya walaupun kelahirannya harus melalui proses operasi, saya bahagia sekali.

Laki-laki kecil itu kami berinama Rangga Hadi Febrian, yang artinya lelaki cendekia yang bisa memberikan petunjuk dan dijadikan panutan, lahir pada bulan Februari.

Rangga kecil terus tumbuh, sesuai dengan harapan kami (setidaknya itu yang saya pikir). Dia tumbuh dan berkembang sesuai dengan petunjuk dalam berbagai macam buku yang menjadi referensi saya.

Satu tahun pertamanya, Rangga sempat membuat saya paranoid, karena tiga kali harus menjali perawatan di rumah sakit karena terserang demam tinggi. Sebagai orang tua baru, ketika bayi kecilnya panas tinggi dan sudah berhari-hari, tentunya langsung panik dan takut.

Di tahun kedua umurnya, Rangga kami masukkan ke kelompok bermain. Bukan tanpa alasan saya memasukkannya ke kelompok bermain walaupun saat itu usianya baru 2 tahun lebih. Bukan karena ‘gaya-gayaan’ anak kecil sudah disekolahkan, tetapi lebih karena Rangga pada saat itu takut untuk bertemu orang baru, cenderung tidak memiliki teman bermain yang sebaya, saya juga bekerja, sehingga harus meninggalkannya di rumah dan belum bisa berbicara dengan baik, hanya beberapa kata yang bisa dia ucapkan.

Saya dan suami memutuskan untuk memasukkan Rangga ke kelompok bermain yang menurut kami bagus di sekitar tempat tinggal kami. Baru beberapa kali masuk sekolah, tiba-tiba koordinator guru di tempat itu mengatakan, “Bu sepertinya anak ibu ada kelainan. Saya pikir anak ibu autis. Ini dari apa yang saya amati dalam 3 kali pertemuan ya bu, saya harap ibu bisa menerima apa yang saya omongkan.”

Perkataan korrdinator guru tersebut bagai hantaman buat saya di siang hari. Yang namanya hancur, kaget, shook dll bercampur jadi satu. Terngiang-ngiang di telinga saya waktu si Ibi guru bilang “Sebagai orang tua yang baik, ibu harus menerima anak ibu apa adanya. Jangan denial”

Saya ingin menjerit saat itu... Siapa yang tidak kaget, ketika seorang guru, yang tidak berinteraksi setiap hari dengan anak saya, yang hanya bertemu 3 kali, dan dia juga tidak mengajar anak saya secara langsung, dengan lantangnya menvonis anak saya “Autis”.

Sepulang dari sekolah hari itu, saya menangis sejadi-jadinya. Suami saya hanya bisa diam dan berusaha meyakinkan saya bahwa “our little boy is fine”. Suami saya bersikukuh, guru sekolah Rangga hanya asal ngomong, tanpa data dan hanya berdasarkan pengelihatan sesaat.

Minggu pertama setelah sang guru menvonis anak saya, saya langsung belajar banyak. Saya browsing semua yang berhubungan dengan kata “Autism”. Om Google menjadi sahabat setia saya saat itu. Tidak puas hanya berdasarkan apa yang saya dapatkan dari internet, saya membawa Rangga ke Dokter yang merawatnya sejak dia lahir. Dokter yang tahu riwayat kesehatan anak saya, dari lahir. Sang Dokter yang baik hati itu hanya bilang dan meyakinkan saya, bahwa Rangga tidak Autis. Dia menyarankan saya, untuk membawa Rangga bertemu dengan tim ahli di Klinik Tumbuh Kembang.

Waktu itu sang Dokter memberikan wejangan yang menyejukkan hati saya. Dia bilang, “Dian, setiap anak yang lahir ke dunia ini, membawa keunikannya sendiri-sendiri. Saya tidak setuju dengan pendapat ahli yang memiliki teori anak umur sekian harus bisa ini dan itu. Tetapi untuk menghilangkan kegelisahan kamu, tidak ada salahnya kamu bawa Rangga untuk bertemu dengan ahlinya. Saya yakin bukan Autism, tetapi saya pikir anak kamu unik”

Setelah kejadian itu, tidak serta merta saya membawa Rangga untuk bertemu dengan ahlinya. Saya bertahan sambil memperhatikan perkembangannya. Jujur, saya tidak bisa terima dengan vonis itu, namun setengah diri saya yang lain, ingin mengetahui lebih jauh ada apa dengan anak saya. Apa benar apa yang dilihat orang lain, karena sebagai ibu yang melahirkannya, saya tidak bisa obyektif melihat suatu masalah.

Cukup lama, sekitar hampir satu tahun dari vonis yang dijatuhkan untuk Rangga oleh sang guru, baru saya berani membawanya ketemu dengan ahlinya. Saya bawa Rangga untuk bertemu dengan seorang psikolog anak. Yang akhirnya membuat saya bulat hati untuk membawa ke psikolog karena Rangga susah sekali konsentrasi. Konsentrasinya mudah sekali teralihkan. Dia bisa bertahan lebih dari 5 menit, itu sudah bagus, seringnya tidak lebih dari 2 menit, konsentrasinya langsung teralihkan. Bicaranya pun belum lancar, sudah bisa mengutarakan maksudnya, namun hanya dalam 3-4 kata paling banyak, sementara keponakan saya yang usianya sama, hanya beda beberapa minggu, sudah lancar bicara.

Hasil pertemuan kami dengan sang psikolog anak tidak bagus, tetapi juga tidak buruk. Rangga dinilai bukan Autis, namun dia mengalami delayed. Bukan ADHD ( Attention Deficit Hyperactivity Disorder) , tetapi lebih kepada Learning Disorder. Untuk meyakinkan dugaan tersebut, sang Psikolog meminta saya untuk membawa Rangga melakukan assastment di klinik tumbuh kembang.

Rangga menjalani assesement pertamanya pada usia tiga tahun lebih. Menjelang empat tahun. Dari assesment yang dijalaninya, para ahli menyimpulkan Rangga mengalami delayed yang tidak jauh dari anak seusianya. Dari sisi kecerdasan, dia sangat baik, sangat cepat menyerap apa yang diberikan, namun dari sisi pengungkapan dan kemampuan sosialisasi dan bahasa dia kurang. Seperti halnya Psikolog anak yang sudah kami temui sebelumnya, menurut hasil assesement, apabila tidak dilakukan terapi, Rangga bisa mengalami learning disorder. Dikhawatirkan, pada saat sekolah, dia bisa tidak naik kelas, bukan karena tidak mampu mengikuti pelajaran, namun karena dia tidak mau mengikuti peraturan ataupun tugas yang diberikan oleh sang guru. Pada saat assesement itupun, saya bertanya kepada sang psikolog, apakah Rangga bisa disekolahkan di sekolah umum, atau harus bersekolah di sekolah bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Jawabannya bisa disekolah umum. Maka mulai saat itu, Rangga menjalani sekolah di kelompok bermain umum dan menjalani terapi disebuah klinik terapi bagi anak-anak yang membutuhkan, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus.

Memasuki bulan Januari tahun lalu, usia Rangga sudah hampir empat tahun, saya memberanikan diri untuk mendaftarkan Rangga ke sebuah TK Islam yang terkenal di sekitar tempat tinggal kami. Saya jujur deg-degan pada saat itu, karena Rangga harus menjalani serangkaian test, yang istilahnya pada saat itu adalah observasi. Pada usia menjelang empat tahun, dan baru menjalani kurang lebih satu bulan terapi, Rangga sudah lancar membaca. Sehingga pada saat observasi dilakukan Rangga dengan mudahnya mengikuti petunjuk, hanya pada saat dia bisa membaca, sementara perintah lainnya, Rangga mengikuti dengan asal-asalan saja.

Sebelumnya pada saat mendaftar, saya sudah mengutarakan keadaan Rangga yang sedang menjalani terapi. Hal yang saya khawatirkan terjadi. Dua hari setalah test dilakukan, saya ditelepon oleh pihak sekolah,yang menyatakan Rangga harus menjalani test yang kedua, karena pada test pertama nilainya tidak mencukupi. Saya berusaha kuat, karena saya harus kuat. Beberapa hari setelahnya, Kepala Sekolah mengundang saya untuk bertemu. Saya berbicara dan bertukar pikiran dengan ibu Kepala sekolah. Dari Ibu Kepala Sekolah saya ketahui pada saat test yang pertama, nilai Rangga hanya beberapa poin di bawah passing grade. Setelah diulang, dengan kondisi Rangga yang relatif lebih fresh (karena pada test pertama Rangga kemungkinan lelah setelah menghadiri pernikahan sepupu saya), nilai Rangga melonjak, memang bukan yang terbaik, namun diatas anak-anak lain.

Kepala sekolah bahkan meminta saya untuk melakukan test kecerdasan untuk Rangga, karena beberapa anak yang memang kecerdasannya diatas rata-rata.

Terapi bagi Rangga terus dilakukan. Test observasi dilakukan enam bulan sebelum Rangga mulai bersekolah di TK tersebut. Selama enam bulan, banyak yang coba dikejar oleh Rangga,salahsatunya terapi untuk memperlancar gerak motorik halusnya.

Awal Rangga mulai sekolah, saya tidak lepas dari rasa khawatir. Apakah Rangga bisa mengkuti pelajaran yang diberikan? Apakah Rangga bisa duduk tenang dan berkonsentrasi dengan baik selama masa pelajaran? Dan masih banyak berbagai kekhawatiran dalam diri saya. Istilahnya Rangga yang sekolah, saya yang sakit perut karena khawatir.

Sejalan dengan waktu, saya bersyukur pada Tuhan. Rangga memperlihatkan kemajuan yang buat saya, sangat menakjubkan.

Di usianya yang baru menginjak 5 tahun, per hari ini, dia sudah mahir menggunakan komputer, walaupun untuk bermain, namun dia justru bisa menemukan hal-hal yang saya sendiri tidak bisa, seperti mengganti background desktop (mungkin untuk sebagian orang ini hal biasa, tetapi bagi saya, hal ini luar biasa).

Rangga juga sangat familiar dengan berbagai macama gedget, bisa membaca dengan lancar, mulai sedikit mengerti Bahasa Inggris, dan sangat menyukai pelajaran matematika. Dia sudah mahir melakukan penjumlahan dan pengurangan, bahakan dia menyukai soal cerita untuk pelajaran matematikanya. Dia juga sudah bisa menulis dengan baik, bahkan saya sudah bisa mendiktenya untuk menuliskan apa yang saya mau.

Baru beberapa hari yang lalu, saya membawa Rangga untuk bertemu dengan Om Dokter (begitu Rangga memanggil Dokter yang merawatnya dari bayi) karena badannya panas sudah tiga hari. Om Dokter sangat takjub dengan perkembangan Rangga yang sudah hampir satu tahun tidak bertemu dengannya.

Rangga menuliskan nama-nama teman sekelasnya disebuah kertas, sambil bercerita ke Om Dokter tentang teman-temannya itu. Rangga juga mengatakan langsung ke om Dokter apa yang dikeluhkannya.
Om Dokter kembali meyakinkan saya, tidak ada yang salah dengan Rangga. Rangga bisa berkembang dengan baik sesuai umurnya.

Dibalik itu semua, apa yang terjadi pada Rangga membuat saya kembali belajar. Belajar banyak hal, belajar tabah, belajar sabar, belajar menerima, belajar berusaha dan belajar untuk Ikhlas.

I love u darling and I promise u you can count on me forever...

Selamat Ulang Tahun anakku sayang, Ibu sayang kamu... Tetaplah menjadi inspirasi bagiku...

Senin, 24 Januari 2011

Dedicated to my assistants

Lagi-lagi ini pengalaman lama, tapi ini merupakan pengalaman saya pertama kali tanpa Assistant ketika anak saya beranjak besar... :)

"MY DAY WITHOUT ASSISTANT"
Jauh sebelum saya memutuskan untuk menikah, bahkan jauh sebelum saya bertemu dengan suami saya, saya sudah memutuskan bahwa suatu hari nanti, saya akan menjadi seorang ibu bekerja. Pada saat itu saya berfikir,pastinya asyik kalau saya punya karir yang baik, sekaligus memiliki keluarga yang menyayangi dan siap menyambut pada saat saya pulang dari kerja. Disisi lain saya juga sudah dapat memastikan, dengan saya sibuk mengejar karir dan ambisi pribadi saya, saya pasti akan sangat tergantung kepada orang-orang yang membantu saya, dalam menjalankan “pekerjaan-pekerjaan rumah tangga”.
Ketika saya menikah, saya masih tidak kepikiran untuk memperkerjakan seseorang untuk membantu saya, toh saya masih tinggal dengan orang tua, dan orang tua saya masih memperkerjakan dua orang pekerja rumah tangga. Ketika saya melahirkanpun, saya masih tidak dipusingkan dengan urusan mencari “assistant” karena saya masih tinggal dengan orang tua, sehingga salahsatu dari kedua pekerja yang ada di rumah orang tua sayapun, saya didik menjadi pengasuh anak saya.
Pencarian dan kebutuhan akan adanya assistant mulai muncul, ketika pengasuh anak saya tiba-tiba memutuskan untuk tidak lagi bekerja pada saya. Ketika itu, anak saya masih berusia 1 tahun. Saat itu yang ada dipikiran saya hanyalah saya harus mendapatkan pengasuh secepatnya. Saya mencoba menelfon seluruh keluarga saya, berharap salahsatu dari mereka memiliki informasi, atau salahsatu dari pekerja yang tinggal di rumah mereka memiliki saudara dari kampung, yang memang sedang mencari kerja. Saya bahkan sempat cuti seminggu lamanya sambil menunggu datangnya pengasuh bagi anak saya.
Hal lain yang membuat saya kebingungan untuk mencari “assistant”, adalah saat liburan Idul Fitri tiba. Ketika anak saya berusia satu sampai dua tahun, tanpa pengasuh disisi saya, dimusim Lebaran, dan semua “assistant” kami pulang untuk berlebaran dengan keluarga mereka, semuanya bisa teratasi. Anak saya masih bisa “diikat” di strolernya, sementara saya sibuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, seperti menyapu, mengepel, mencuci piring, dan mencuci baju. Saya bahkan berbagi tugas dengan ibu dan suami untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dan menjaga anak kami.
Namun Lebaran tahun ini berbeda dengan Lebaran tahun-tahun sebelumnya. Khusus tahun ini, saya sedikit was-was saat ditinggal oleh assistant saya yang setia mudik ke kampung halaman mereka.

Pertama, saya baru saja memulai pekerjaan saya di tempat yang baru, sehingga sangat mustahil untuk saya mengajukan cuti tahunan (karena memang masih belum memiliki hak cuti). Sementara suami saya juga tidak kebagian jatah untuk mengambil cuti karena temannya sudah terlebih dahulu mengajukan cuti.
Alasan kedua, pengasuh dan juga pekerja rumah tangga saya, keduanya memilih untuk menghabiskan masa cuti mereka pada saat Lebaran, walaupun awalnya saya sudah menawarkan kepada mereka, agar salahsatu dari mereka mengambil cuti pada sebelum Lebaran tiba, sehingga saat Lebaran tiba, entah pengasuh anak saya, entah pekerja rumah tangga saya masih ada.
Ketiga, lebaran kali ini, anak lelaki saya sudah berusia 3 tahun lebih, dan masa ini merupakan masa “teraktif” bagi seorang bocah lelaki. Anak saya sedang memasuki tahap dimana sulit sekali untuk disuruh diam dan berhenti bergerak walaupun hanya 5 menit, selain itu anak saya juga sedang memasuki tahap tidak mau mendengarkan perkataan saya , dan bertanya kenapa dia dilarang untuk melakukan sesuatu. Sejujurnya,hal inilah yang paling membuat saya khawatir.
Tepat pada hari raya Idul Fitri kemarin contohnya. Dengan sangat terpaksa, saya harus melakukan sholat dengan konsentrasi terpecah, karena anak saya menolak untuk ikut ke mesjid, yang jaraknya tidak sampai 50 meter dari rumah saya. Alhasil, ketika Imam baru saja mengucapkan Assalamualaikum, tanda sholat Idul Fitri baru saja berakhir, tanpa mendengarkan khotbah, saya langsung berlari menuju rumah untuk melihat anak saya, yang ternyata masih asyik mendengarkan lagu-lagu kesukaannya di tempat saya tinggalkan.
Kembali ke masalah pencarian “assistan” . Karena ketiga alasan yang telah jabarkan diatas, maka saat lebaran tahun ini, saya sempat terfikir untuk mengambil pekerja rumah tangga infal, yang banyak ditawarkan di brosur, ataupun selebaran yang ada di rumah saya. Tanpa membuang kesempatan,saya langsung mencoba menghubungi beberapa nomor telphone yang tertera di iklan penyedia pekerja rumah tangga sementara, namun ketika saya mencoba menghubungi mereka, semua penyedia jasa pekerja infal menerapkan tariff yang tidak murah (yang jelas tidak sesuai dengan isi kantong saya).
Untuk uang muka yang harus disetorkan ke penyalur saja, saya harus merogoh kocek 450 hingga 500 ribu rupiah, sedangkan untuk upah pekerja infal perharinya, berkisar antara 75 hingga 100 ribu rupiah. Pilihan untuk mencari “assistant” sementara melalui penyalur infal akhirnya harus dihapus dari list saya.
Sayapun mencoba alternative lain, dengan mencari orang disekitar rumah ibu saya, untuk dimintai tolong melakukan pekerjaan rumah tangga, sehingga saya dan ibu saya bisa berkonsentrasi menjaga anak lelaki saya. Namun sekali lagi saya harus menelan kecewa, karena orang yang awalnya berjanji untuk bekerja paruh waktu di tempat tinggal kami, dengan bayaran 300 ribu selama dua minggu, tidak kunjung datang ke rumah kami.
Setelah melewati berbagai pencarian “assistant” sementara gagal, akhirnya saya memutuskan untuk melewati Lebaran kali ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, berempat dengan suami, anak, serta ibu saya tanpa bantuan apapun. Namun dibalik sesuatu yang awalnya saya anggap beban berat ini, ada suatu berkah yang dapat saya petik.

Saya seperti diberi kesempatan oleh Tuhan, untuk lebih mengenal anak saya. Dengan kesibukan saya meniti karir, saya seperti diberi waktu baru untuk memahami karakter anak saya yang mulai berkembang, dengan kepintaran-kepintaran yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya. Selain itu, dengan sulitnya saya mendapatkan “assistant” pengganti, saya seperti diingatkan untuk lebih menghargai orang yang bekerja dengan saya, karena saya tidak bisa hidup tanpa “assistant-assistant” saya yang setia…

Happy Eid Mubarak 1430 H
This is dedicated to all my assistant
Thank you so much girls, for helping me

Mengenang Dek To...

Ini bukan goresan baru, ini merupakan goresan ketika saya merasa kehilangan seorang sepupu, yang sama sekali tidak saya duga. Almarhum pernah tinggal di rumah orangtua saya, dan itu membuat saya cukup mengenang almarhum dengan baik.

Hampir tiga tahun, almarhum meninggalkan kami keluarga besarnya... May you rest in piece brother, I know you have better place right now...

"CERITA TENTANG KEHILANGAN"
Kita tidak pernah tau kapan waktu kita akan habis

Seseorang yang tiba-tiba sehat walafiat beberpa bulan sebelumnya, tiba-tiba mengindap penyakit yang mengerikan...

Seseorang yang terlihat segar bugar, ternyata harus menyerah di meja operasi..

Dibalik itu semua..ada kisah sedih yang menyertai kehilangan itu..

Beberapa minggu lalu saudara sepupuku meninggal dunia diusianya yang baru 47 tahun dan meninggalkan 3 orang anaknya yang masih kecil.

Banyak dari kami yang sedih, karena sang ibu tidak bekerja dengan beban anak-anak yang masih kecil, terutama anak bungsu almarhum, yang baru kelas 1 SD..

Dia tidak tau apa artinya ditinggal sang ayah, yang dia tau ayahnya tidur selama-lamanya dan ketemu Tuhan di surga..

Ketika jenazah almarhum akan dimasukkan ke liang kubur, tiba-tiba sang anak melontarkan pertanyaan sederhana,namun itulah yang dapat diterima nalar seorang anak berusia 6 tahun..

"Mama kenapa HP Papa tidak dibawain bareng Papa, kan kalau dibawain aku bisa telfon-telfonan sama Papa di surga"

Sederhana, tetapi cukup membuat semua orang yang ada di pemakaman tercekat dan menitikkan air mata..



Innalilahi Wainailahi Rojiun
May you rest in peace brother...

My Simple Life

Citra Graha, 24 Januari 2011

Saya bukanlah seorang penulis yang baik, cuma makin lama saya merasa bahwa saya butuh sesuatu untuk menyalurkan sesuatu yang saya rasakan.
Saya hanya seorang ibu dari anak super (menurut saya ya :) ) yang kebetulan juga bekerja sebagai jurnalis di sebuah televisi berbayar yang sedang dibangun.