Lagi-lagi ini pengalaman lama, tapi ini merupakan pengalaman saya pertama kali tanpa Assistant ketika anak saya beranjak besar... :)
"MY DAY WITHOUT ASSISTANT"
Jauh sebelum saya memutuskan untuk menikah, bahkan jauh sebelum saya bertemu dengan suami saya, saya sudah memutuskan bahwa suatu hari nanti, saya akan menjadi seorang ibu bekerja. Pada saat itu saya berfikir,pastinya asyik kalau saya punya karir yang baik, sekaligus memiliki keluarga yang menyayangi dan siap menyambut pada saat saya pulang dari kerja. Disisi lain saya juga sudah dapat memastikan, dengan saya sibuk mengejar karir dan ambisi pribadi saya, saya pasti akan sangat tergantung kepada orang-orang yang membantu saya, dalam menjalankan “pekerjaan-pekerjaan rumah tangga”.
Ketika saya menikah, saya masih tidak kepikiran untuk memperkerjakan seseorang untuk membantu saya, toh saya masih tinggal dengan orang tua, dan orang tua saya masih memperkerjakan dua orang pekerja rumah tangga. Ketika saya melahirkanpun, saya masih tidak dipusingkan dengan urusan mencari “assistant” karena saya masih tinggal dengan orang tua, sehingga salahsatu dari kedua pekerja yang ada di rumah orang tua sayapun, saya didik menjadi pengasuh anak saya.
Pencarian dan kebutuhan akan adanya assistant mulai muncul, ketika pengasuh anak saya tiba-tiba memutuskan untuk tidak lagi bekerja pada saya. Ketika itu, anak saya masih berusia 1 tahun. Saat itu yang ada dipikiran saya hanyalah saya harus mendapatkan pengasuh secepatnya. Saya mencoba menelfon seluruh keluarga saya, berharap salahsatu dari mereka memiliki informasi, atau salahsatu dari pekerja yang tinggal di rumah mereka memiliki saudara dari kampung, yang memang sedang mencari kerja. Saya bahkan sempat cuti seminggu lamanya sambil menunggu datangnya pengasuh bagi anak saya.
Hal lain yang membuat saya kebingungan untuk mencari “assistant”, adalah saat liburan Idul Fitri tiba. Ketika anak saya berusia satu sampai dua tahun, tanpa pengasuh disisi saya, dimusim Lebaran, dan semua “assistant” kami pulang untuk berlebaran dengan keluarga mereka, semuanya bisa teratasi. Anak saya masih bisa “diikat” di strolernya, sementara saya sibuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, seperti menyapu, mengepel, mencuci piring, dan mencuci baju. Saya bahkan berbagi tugas dengan ibu dan suami untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dan menjaga anak kami.
Namun Lebaran tahun ini berbeda dengan Lebaran tahun-tahun sebelumnya. Khusus tahun ini, saya sedikit was-was saat ditinggal oleh assistant saya yang setia mudik ke kampung halaman mereka.
Pertama, saya baru saja memulai pekerjaan saya di tempat yang baru, sehingga sangat mustahil untuk saya mengajukan cuti tahunan (karena memang masih belum memiliki hak cuti). Sementara suami saya juga tidak kebagian jatah untuk mengambil cuti karena temannya sudah terlebih dahulu mengajukan cuti.
Alasan kedua, pengasuh dan juga pekerja rumah tangga saya, keduanya memilih untuk menghabiskan masa cuti mereka pada saat Lebaran, walaupun awalnya saya sudah menawarkan kepada mereka, agar salahsatu dari mereka mengambil cuti pada sebelum Lebaran tiba, sehingga saat Lebaran tiba, entah pengasuh anak saya, entah pekerja rumah tangga saya masih ada.
Ketiga, lebaran kali ini, anak lelaki saya sudah berusia 3 tahun lebih, dan masa ini merupakan masa “teraktif” bagi seorang bocah lelaki. Anak saya sedang memasuki tahap dimana sulit sekali untuk disuruh diam dan berhenti bergerak walaupun hanya 5 menit, selain itu anak saya juga sedang memasuki tahap tidak mau mendengarkan perkataan saya , dan bertanya kenapa dia dilarang untuk melakukan sesuatu. Sejujurnya,hal inilah yang paling membuat saya khawatir.
Tepat pada hari raya Idul Fitri kemarin contohnya. Dengan sangat terpaksa, saya harus melakukan sholat dengan konsentrasi terpecah, karena anak saya menolak untuk ikut ke mesjid, yang jaraknya tidak sampai 50 meter dari rumah saya. Alhasil, ketika Imam baru saja mengucapkan Assalamualaikum, tanda sholat Idul Fitri baru saja berakhir, tanpa mendengarkan khotbah, saya langsung berlari menuju rumah untuk melihat anak saya, yang ternyata masih asyik mendengarkan lagu-lagu kesukaannya di tempat saya tinggalkan.
Kembali ke masalah pencarian “assistan” . Karena ketiga alasan yang telah jabarkan diatas, maka saat lebaran tahun ini, saya sempat terfikir untuk mengambil pekerja rumah tangga infal, yang banyak ditawarkan di brosur, ataupun selebaran yang ada di rumah saya. Tanpa membuang kesempatan,saya langsung mencoba menghubungi beberapa nomor telphone yang tertera di iklan penyedia pekerja rumah tangga sementara, namun ketika saya mencoba menghubungi mereka, semua penyedia jasa pekerja infal menerapkan tariff yang tidak murah (yang jelas tidak sesuai dengan isi kantong saya).
Untuk uang muka yang harus disetorkan ke penyalur saja, saya harus merogoh kocek 450 hingga 500 ribu rupiah, sedangkan untuk upah pekerja infal perharinya, berkisar antara 75 hingga 100 ribu rupiah. Pilihan untuk mencari “assistant” sementara melalui penyalur infal akhirnya harus dihapus dari list saya.
Sayapun mencoba alternative lain, dengan mencari orang disekitar rumah ibu saya, untuk dimintai tolong melakukan pekerjaan rumah tangga, sehingga saya dan ibu saya bisa berkonsentrasi menjaga anak lelaki saya. Namun sekali lagi saya harus menelan kecewa, karena orang yang awalnya berjanji untuk bekerja paruh waktu di tempat tinggal kami, dengan bayaran 300 ribu selama dua minggu, tidak kunjung datang ke rumah kami.
Setelah melewati berbagai pencarian “assistant” sementara gagal, akhirnya saya memutuskan untuk melewati Lebaran kali ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, berempat dengan suami, anak, serta ibu saya tanpa bantuan apapun. Namun dibalik sesuatu yang awalnya saya anggap beban berat ini, ada suatu berkah yang dapat saya petik.
Saya seperti diberi kesempatan oleh Tuhan, untuk lebih mengenal anak saya. Dengan kesibukan saya meniti karir, saya seperti diberi waktu baru untuk memahami karakter anak saya yang mulai berkembang, dengan kepintaran-kepintaran yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya. Selain itu, dengan sulitnya saya mendapatkan “assistant” pengganti, saya seperti diingatkan untuk lebih menghargai orang yang bekerja dengan saya, karena saya tidak bisa hidup tanpa “assistant-assistant” saya yang setia…
Happy Eid Mubarak 1430 H
This is dedicated to all my assistant
Thank you so much girls, for helping me
Senin, 24 Januari 2011
Mengenang Dek To...
Ini bukan goresan baru, ini merupakan goresan ketika saya merasa kehilangan seorang sepupu, yang sama sekali tidak saya duga. Almarhum pernah tinggal di rumah orangtua saya, dan itu membuat saya cukup mengenang almarhum dengan baik.
Hampir tiga tahun, almarhum meninggalkan kami keluarga besarnya... May you rest in piece brother, I know you have better place right now...
"CERITA TENTANG KEHILANGAN"
Kita tidak pernah tau kapan waktu kita akan habis
Seseorang yang tiba-tiba sehat walafiat beberpa bulan sebelumnya, tiba-tiba mengindap penyakit yang mengerikan...
Seseorang yang terlihat segar bugar, ternyata harus menyerah di meja operasi..
Dibalik itu semua..ada kisah sedih yang menyertai kehilangan itu..
Beberapa minggu lalu saudara sepupuku meninggal dunia diusianya yang baru 47 tahun dan meninggalkan 3 orang anaknya yang masih kecil.
Banyak dari kami yang sedih, karena sang ibu tidak bekerja dengan beban anak-anak yang masih kecil, terutama anak bungsu almarhum, yang baru kelas 1 SD..
Dia tidak tau apa artinya ditinggal sang ayah, yang dia tau ayahnya tidur selama-lamanya dan ketemu Tuhan di surga..
Ketika jenazah almarhum akan dimasukkan ke liang kubur, tiba-tiba sang anak melontarkan pertanyaan sederhana,namun itulah yang dapat diterima nalar seorang anak berusia 6 tahun..
"Mama kenapa HP Papa tidak dibawain bareng Papa, kan kalau dibawain aku bisa telfon-telfonan sama Papa di surga"
Sederhana, tetapi cukup membuat semua orang yang ada di pemakaman tercekat dan menitikkan air mata..
Innalilahi Wainailahi Rojiun
May you rest in peace brother...
Hampir tiga tahun, almarhum meninggalkan kami keluarga besarnya... May you rest in piece brother, I know you have better place right now...
"CERITA TENTANG KEHILANGAN"
Kita tidak pernah tau kapan waktu kita akan habis
Seseorang yang tiba-tiba sehat walafiat beberpa bulan sebelumnya, tiba-tiba mengindap penyakit yang mengerikan...
Seseorang yang terlihat segar bugar, ternyata harus menyerah di meja operasi..
Dibalik itu semua..ada kisah sedih yang menyertai kehilangan itu..
Beberapa minggu lalu saudara sepupuku meninggal dunia diusianya yang baru 47 tahun dan meninggalkan 3 orang anaknya yang masih kecil.
Banyak dari kami yang sedih, karena sang ibu tidak bekerja dengan beban anak-anak yang masih kecil, terutama anak bungsu almarhum, yang baru kelas 1 SD..
Dia tidak tau apa artinya ditinggal sang ayah, yang dia tau ayahnya tidur selama-lamanya dan ketemu Tuhan di surga..
Ketika jenazah almarhum akan dimasukkan ke liang kubur, tiba-tiba sang anak melontarkan pertanyaan sederhana,namun itulah yang dapat diterima nalar seorang anak berusia 6 tahun..
"Mama kenapa HP Papa tidak dibawain bareng Papa, kan kalau dibawain aku bisa telfon-telfonan sama Papa di surga"
Sederhana, tetapi cukup membuat semua orang yang ada di pemakaman tercekat dan menitikkan air mata..
Innalilahi Wainailahi Rojiun
May you rest in peace brother...
My Simple Life
Citra Graha, 24 Januari 2011
Saya bukanlah seorang penulis yang baik, cuma makin lama saya merasa bahwa saya butuh sesuatu untuk menyalurkan sesuatu yang saya rasakan.
Saya hanya seorang ibu dari anak super (menurut saya ya :) ) yang kebetulan juga bekerja sebagai jurnalis di sebuah televisi berbayar yang sedang dibangun.
Saya bukanlah seorang penulis yang baik, cuma makin lama saya merasa bahwa saya butuh sesuatu untuk menyalurkan sesuatu yang saya rasakan.
Saya hanya seorang ibu dari anak super (menurut saya ya :) ) yang kebetulan juga bekerja sebagai jurnalis di sebuah televisi berbayar yang sedang dibangun.
Langganan:
Komentar (Atom)